Begini Cara Wabup Muratara Larang Warganya Tangkap Ikan

MURATARA – Menangkap ikan dengan cara menyentrum, mutas (meracun), ngebung dan cara lainnya yang dilarang dalam undang-undang tidak boleh dilakukan.

Penegasan ini disampaikan Wakil Bupati Musi Rawas Utara H Devi Suhartoni saat memimpin sosialisasi larangan menangkap ikan dengan cara yang dapat mengakibatkan kerusakan biota air, di Balai Kantor Camat, Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, Rabu (02/05).

“Dengan cara menyentrum ataupun alat terlarang lainnya yang digunakan untuk menangkap ikan, kami tegaskan itu tidak boleh. Silakan mencari ikan sebanyak-banyaknya selagi itu benar,” kata Wabup.

Dia juga mengancam akan menindak oknum warga nakal di desa -desa yang masih menangkap ikan dengan cara yang tidak benar.

“Saat ini masih terdapat oknum warga di desa-desa yang menangkap ikan dengan cara tidak benar. Ini kami ingatkan, jika masih melakukan penangkapan ikan yang sipatnya merusak, Pemkab tidak diam saja dan akan memproses sesuai hukum berlaku,” ancamnya.

Senada dikatakan Camat Rawas Ilir, Suharto, mengimbau masyarakat khususnya Rawas Ilir agar melakukan penangkapan ikan dengan cara benar dan tidak merusak biota air.

“Kami harapkan melalui sosialisasi ini masyarakat sadar, bahwa menangkap ikan dengan cara yang dilarang dalam undang-undang itu tidak benar dan dapat merusak lingkungan serta kelangsungan hidup biota air,” katanya.

Sementara Kades BM 1 Ashari, mengatakan pemerintah sejauh ini tidak melarang masyarakat mencari dan menangkap ikan selagi dengan cara yang benar.

“Pemerintah bukan tidak boleh dan melarang masyarakat untuk menangkap ikan di aliran sungai. Tetapi melarang dan mencegah jika menangkap ikan dengan cara yang salah seperti penyentruman maupun dengan cara meracun,” katanya.

Terpisah, salah satu masyarakat nelayan, Juwari (55) warga Kelurahan Bingin Teluk, mengatakan selama ini pihaknya telah mendengar bahwa masyarakat dilarang mencari ikan. Tapi dia mengaku sebagai nelayan ikan tidak pernah dengan cara menyentrum, melainkan dengan cara berkarang dengan waring, (memasang jaring).

Dia dan sejumlah nelayan lainnya mengaku bersukur atas kepedulian pemerintah terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan biota air, khususnya terhadap ikan sungai.

“Kami sendiri sebagai nelayan justru lebih takut akan matinya kelangsungan kehidupan ikan sungai.Bahkan saat menangkap ikan dan dapat yang kecil, kami lepas lagi ke sungai agar hidup besar dan berkembang biak,” kata dia.

Dia berharap kepada pemerintah, larangan menangkap ikan itu hendaknya diiringi juga dengan memberikan solusi bagi nelayan. ( Sumber MS)

Editor : Firmansyah Anwar