MENAKAR PARTAI PEMENANG PEMILU 2019 DI KABUPATEN MUSI RAWAS

 

Oleh: EFRAN HERYADI

(Pengamat Pinggiran, tinggal di Kab. Musi Rawas).

 

Genderang perang pemilu serentak tahun 2019 sudah ditabuh. Begitu juga dengan partai politik, terjadi arus kesibukan yang luar biasa. Ini pertama kali dalam sejarah pemilu di Indonesia, pelaksanaan pemilu legislatif dan pilpres diserentakkan. Selain memastikan mesin partai terus menyala untuk memenangkan capres dukungannya, tentu memenangkan pemilu legislatif, minimal lolos dari lubang jarum ‘parliementary theresold’ adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Mengutip dari media online Tirto. id, pada saat pagelaran pemilu 2014 yang lalu, dari semua partai, yang menargetkan perolehan suara tidak satu pun yang berhasil. PDIP sebagai jawara pemilu, menargetkan angka 27 persen dalam Pemilu lalu, tapi realisasinya hanya 18,95 persen dari total suara atau setara 23,6 juta suara. Golkar yang sempat menargetkan angka 30 persen, hanya meraup dukungan 18,4 juta suara, atau setara 14,75 persen. Begitu pula yang terjadi dengan Gerindra, Demokrat, PKB, PAN, PKS, dan partai lainnya. Semua meleset dan tak sedikit yang terpeleset.

Pada pemilu 2019 beberapa partai politik telah menetapkan target raihan suara dalam Pemilu 2019. Ada yang menargetkan partainya akan menjadi pemenang pemilu, ada yang cukup puas menargetkan partainya diposisi runner-up, tak sedkiti yang sekedar menargetkan lolos dari ambang batas parlemen sebesar 4%. Beberapa lembaga survei telah merilis hasil riset mereka tentang posisi nomor urut perolehan suara partai. Dari hasil-hasil yang dirilis tersebut dapat diambil hipotesis bahwa dari besaran target yang dicanangkan partai, ada target yang bombastis, pun banyak yang realistis.

Bagaimana di Kabupaten Musi Rawas?
Dengan aturan “parlementary theresold” yang hanya berlaku di tingkat pusat tidak mengurangi tingginya suhu politik di Kabupaten berjuluk Lan Serasan Sekantenan ini. Dari hasil penelusuran penulis, beberapa partai telah memasang target, ada partai yang masih berbicara di internal partainya, ada juga yang secara terang-terangan memproklamirkan target perolehan suara/kursi partainya. Berangkat dari sinilah, penulis tertarik untuk menerka partai pemenang pemilu 2019 di Kabupaten Musi Rawas.

Jika kita membuka lembaran sejarah hasil pemilu sejak era reformasi di Kabupaten yang sekarang memiliki 14 Kecamatan ini. Pada pemilu 1999, PDIP menasbihkan dirinya menjadi kampiun dengan perolehan 16 kursi. Lalu pada ajang pemilu 2004, Partai Golkar berhasil mengkudeta posisi PDIP dengan 11 kursi. Kemudian pada pemilu tahun 2009 serta Pemilu 2014, laju PDIP tak tertandingi dengan hasil masing-masing 7 kursi dan 6 kursi. (Catatan: Pada pemilu 2004, Lubuk Linggau tidak lagi tergabung dengan Kab. Musi Rawas dan pada pemilu tahun 2014, Kab. Muratara tidak lagi tergabung dengan Kab. Musi Rawas).

Penulis mencatat pada pemilu 1999 partai pemenang pemilu adalah partai yang berhasil mencitrakan dirinya dekat dengan para pemilih. Pada pemilu ini, dengan semangat reformasi yang bergelora sampai ke tulang sum-sum, para pemilih memilih berdasarkan partai politik yang mereka anggap mampu berperan sebagai agen perubahan. Tidak berbeda jauh dengan pemilu 2004, dengan sistem nomor urut, partai masih berpengaruh signifikan terhadap keterpilihan caleg yang diusung. Namun, saat pemilu 2009, ada hal menarik dengan kebijakan penetapan calon legislatif terpilih dilaksanakan dengan sistem suara terbanyak. –Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009. Peraturan KPU ini merupakan tindak-lanjut atas Putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e yang mengatur penetapan calon terpilih dalam UU Nomor 10 Tahun 2008 berdasarkan nomor urut –. Kebijakan ini ditengarai membuat dunia politik mengalami pergeseran yang sangat signifikan bukan saja berimplikasi dalam kaitannya dengan hubungan antara caleg dengan para pemilih, namun juga dalam perspektif antara caleg dengan parpol yang membuat semakin longgarnya hubungan di antara keduanya.

Firmanzah dalam bukunya Marketing Politik, menulis bahwa sejak berakhirnya kekuasaan orde baru berbanding lurus dengan semakin massifnya perkembangan teknologi dan informasi serta terbukanya akses informasi dengan segala karakteristiknya tak ayal menjadikan informasi bisa didapat di mana saja dan kapan saja. Fenomena ini dapat kita buktikan dengan semakin tumbuh suburnya media lokal dan media global, baik dalam bentuk cetak maupun online, yang kehadirannya mampu mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat termasuk menstimulasi, mengkonstruksi, dan mentransmisi permasalahan politik. Konsekuensi dari hal tersebut di atas menjadikan tingkat pemahaman masyarakat akan dinamika yang terjadi di panggung politik semakin tinggi. Hal ini ditambah dengan semakin meningkat dan meratanya pendidikan formal masyarakat menjadikan akfivitas politik dengan segala hingar-bingarnya bukan lagi hanya domain para elit, dunia politik yang dulu tertutup, represif, dan penuh rekayasa kini tergilas oleh keinginan masyarakat semakin menuntut berlangsungnya dunia politik seharusnya berjalan.

Ada dugaan tidak sigapnya partai politik di daerah dalam menghadapi era keterbukaan yang menuntut kecerdasan dan kecerdikan dalam menyikapi permasalahan tersebut, dibuktikan dengan hasil berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa para pemilih dalam menetapkan pilihannya mayoritas tergantung dengan reputasi, citra, latar belakang, dan kualitas caleg, serta modalitas finansial, bukan dari sisi partai. Hal ini ditengarai sebagai salah satu hal yang menyebabkan partai bertindak pragmatis dalam tata cara rekruitmen calon legislatif. Perebutan caleg potensial sebagai “Vote Getter” semakin sengit. Alasannya sederhana, dengan tingkat keterpilihan yang tinggi tentu akan mendongkrak perolehan suara partai berlangsung dari level pusat hingga daerah.

Ditambah lagi gagapnya partai dalam menyesuaikan diri di era politik kontemporer ini juga bisa dilihat dari cara mereka berkampanye yang dilakukan hanya menjelang pemilu saja. Tidak mengherankan jika ruang publik diisi oleh hingar bingar janji-janji yang hanya berlaku satu arah, pemilih hanya dijadikan objek, dan sangat minim interaksi antara partai dan caleg dengan pemilih. Padahal sudah sangat jelas bahwa kampanye pemilu hanya akan meningkatkan kuantitas pemilih non partisan, karena preferensi pemilih tentang partai atau caleg yang akan dipilih tidak bisa dibentuk dengan instan. Partai dan caleg seyogyanya melaksanakan politik yang berlangsung sejak jauh-jauh hari dan kontinyu dengan cara menunjukkan kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat. Pemilih seharusnya dijadikan subjek dan terjalin kemitraan yang simbiosis mutualisme.
Prediksi partai pemenang Pemilu 2019!

Sejujurnya tidak gampang menerka partai pemenang pemilu di Kab. Musi Rawas. Kekuatan yang hampir berimbang di antara beberapa partai menjadi alasan paling kuat. Namun, setelah menganalisis beberapa aspek, penulis berpendapat bahwa Partai Nasdem akan keluar menjadi pemenang. Alasannya:
1). Dihuni oleh caleg potensial di semua dapil. Hasil dari beberapa penelitian, sejak diberlakukannya sistem suara terbanyak, ada kecenderungan pemilih lebih memilih figur caleg ketimbang partai.
2). Sukses “merebut” dua petahana dari dua partai pesaing. Dua petahana tersebut memiliki elektabilitas yang tinggi dan di dukung oleh instrumen politik dari sisi modalitas sosial dan finansial yang mumpuni;
3). Ketua partai tidak mencalonkan diri di DPRD Kabupaten. Karena adanya konvensi diinternal partai, siapa pun yang sukses memperoleh suara terbanyak di antara caleg yang memperoleh kursi dan partai menjadi pemenang pemilu, maka Ia akan dipromosikan sebagai ketua DPRD. Faktor ini membuka kompetisi yang sehat dan sebagai stimulasi bagi semua caleg potensial untuk mengerahkan strategi dan taktik guna mencari suara sebanyak mungkin.
4). Adanya efek ekor jas di Pilgub Sumsel 2018 beberapa waktu lalu.
Pesaing terkuat Partai Nasdem datang dari juara bertahan PDIP, Partai Gerindra, dan Partai Golkar. Berdasarkan data hasil pemilu 2009 dan 2014 bahwa perolehan kursi pemenang pemilu berada dalam kisaran 6 sampai 7 kursi serta kekuatan para caleg Partai Nasdem. Maka, penulis berkeyakinan, bahwa partai Nasdem akan memperoleh 6 sampai 8 kursi. Ini juga berlaku seandainya ada perubahan posisi dari partai kompetitor.

Demikian, analisis saya, dengan masih tersisanya waktu hampir empat bulan, sangat terbuka kemungkinan perubahan posisi. Bukankah ahli strategi militer, Sun Tzu dalam bukunya berjudul¬†“The Art of War” menyatakan
“….Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. ….” partai mana pun yang dapat menerapkan strategi jitu memiliki probabilitas untuk menjadi kampiun. Siapa pun caleg yang terpilih dan partai apa pun yang memperoleh suara terbanyak, kita berharap bisa konsisten bekerja untuk kepentingan rakyat. Seperti disampaikan oleh Najwa Shihab: “Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari”.
Begitu juga, sangat terbuka ruang untuk kita berdialektika!