ETIKA DAN KEADILAN : SEBUAH REFLEKSI DALAM MENYIKAPI KASUS PROSTITUSI

 

Oleh: Efran Heryadi
“EHY” Pengamat Pinggiran

Ruang publik tanah air kembali dikejutkan oleh pemberitaan di layar kaca maupun berita di media cetak dan online, tentang terbongkarnya kasus prostitusi online yang melibatkan selebriti tanah air oleh pihak jajaran Polda Jawa Timur di salah satu hotel di daerah Surabaya, pada Sabtu, 5 Januari 2019, beberapa waktu yang lalu.

Walaupun kasus yang mencoreng dunia selebritas Indonesia ini bukan yang pertama kali, namun tak mengurangi animo masyarakat untuk “berceloteh ria” yang semakin membuat riuh dan sesak lini masa, kali ini “bintang utamanya” adalah seorang artis FTV yang bernama Vanessa Angel.

Terbukanya kran informasi dengan segala nuansa keterbukaannya, hal yang menyangkut seks pun menjadi bagian dari dunia publik yang tidak terelakkan kehadirannya. Seks yang semula sakral dan menjadi sangat profan, sekarang dibincangkan, dikuliti, dan dipublikasikan ke ranah publik oleh media. Apa yang dialami oleh sosok sosialita Vanessa Angel sebagai bukti sahih. Tidak hanya peristiwa penggerebekan dirinya, bahkan hal yang menyentuh ranah pribadi dari tarif hingga alat yang digunakan dan pakaian yang melekat dibadannya pun tidak luput dari eksploitasi dan sasaran ekspos media.

Prof. Dr. Nur Syam, M. Si. dalam bukunya yang berjudul “Agama Pelacur: Dramaturgi Transdental” menyebutkan menjadi pelaku prostitusi bukanlah tindakan yang diinginkan oleh siapa pun, termasuk oleh pelakunya sendiri. Terdapat banyak faktor yang menjerumuskan mereka ke lembah prostitusi. Tekanan ekonomi, sosial, dan rumah tangga bisa menjadi faktor penentu yang menjerumuskan mereka ke dunia tersebut. Stereotipe yang melekat pada pelaku prostitusi sebagai manusia sampah masyarakat, manusia lembah hitam, manusia perusak moral, dan manusia penuh dosa.
Jika mengutip dari buku Hendro Sulistiawan yang berjudul “Manusia Utuh: Sebuah Kajian Atas Pemikiran Abraham Maslow”, pelacur pada umumnya berasal dari mereka yang berada pada tingkatan pertama yakni untuk memenuhi kebutuhan fisik yang merupakan kebutuhan paling mendasar dan mendominasi manusia. Kebutuhan ini bersifat kebutuhan biologis, seperti kebutuhan akan oksigen, makanan, air, dan sebagainya. Penulis meletakkan posisi para pelaku prostitusi yang dimaksud oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. di tingkatan pertama ini.

Berbeda halnya dengan para selebriti yang dengan keglamouran kehidupannya terjebak dalam dunia hitam kebutuhan untuk dianggap kuat, mandiri, terkenal, menjadi pusat perhatian, dan keinginan untik dianggap penting, atau apresiasi tertentu lainnya. Ditambah dengan perilaku hidup hedonis dan konsumerisme yang pada akhirnya mereka melakukan berbagai cara yang menyimpang dari tatanan norma dalam kehidupan masyarakat.

Agustinus W. Dewantara dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia” mengatakan bahwa perbuatan manusia itu tidak tunggal, melainkan kompleks. Maka dari itu, karena kompleksitas perbuatan manusia, penilaian moralnya juga kompleks, bahkan dalam suatu hal yang dipandang sama sekalipun. Artinya adanya distingtif antara prostitusi yang dilakukan oleh wanita marjinal karena terjebak dalam kemiskinan dengan yang dilakukan oleh para selebritis yang melakukan itu karena perilaku hedonis dan konsumerisme.

Gaya hidup yang hedonis tentu memerlukan biaya besar yang tentunya akan membuat situasi hidup agak sulit bagi artis artis yang latar belakang kehidupannya bukan dari golongan anak orang kaya raya. Ditambah lagi kelas keartisannya berada posisi medioker, tentu jika hanya mengandalkan pendapatan dari honor artis, tentunya mereka akan kewalahan guna membiayai seabrek pernak-pernik kebutuhannya.

“Seks adalah kekuasaan” begitulah yang dinyatakan oleh Foucault. Bahwa di dalam dunia prostitusi terdapat relasi kuasa, yakni relasi kekuatan, kepatuhan, ketundukan, hegemoni, dan sub ordinasi satu atas lainnya. Vanesha Angle di dunia selebritis dan fashion adalah contoh mengenai menyeruaknya relasi kuasa tersebut. Dan, publik kembali dibuat terperangah olehnya. Ia dan para selebritis yang pernah tersandung bahkan diduga termasuk pelaku dalam bisnis prostitusi “high class” secara online menjadi noktah hitam yang menggemparkan jagat hiburan, ekonomi, budaya, bahkan dunia politik.

Penulis mengajak kita semua untuk menyudahi “pergunjingan” tentang para pelaku prostitusi ini. Terlepas dari tidak diberikannya sanksi hukum kepada artis Vanesa Angel, dkk, karena dalam konteks prostitusi online ini mereka adalah korban dalam artian tidak melanggar norma hukum. Namun, sanksi atas pelanggaran norma etika/moral yang telah dan terus akan mereka rasakan, yakni berupa konsekuensi moral, baik dalam lingkup personal, komunal, sosial, bahkan spiritual atas tindakan pelanggaran yang mereka lakukan.

Justru penulis berpendapat upaya yang harus dilakukan adalah agar kita berlaku adil untuk menggiring opini┬ápublik agar mendorong aparat kepolisian guna membuka siapa-siapa saja yang pernah memakai jasa para pelaku prostitusi “high class” ini, yang konon kabarnya ada dugaan mereka berasal kalangan para pengusaha dan pejabat publik. Ups!