MENGUKUR EFEKTIVITAS STRATEGI CALEG UNGGULAN MEMASANG CALEG DARI DESA DAN KOMUNITAS PADA PEMILU 2019 DI KAB. MUSI RAWAS

Oleh Efran Heryadi

Pengamat Pinggiran di Musi Rawas

Pada pemilu 1999 dan 2004. Strategi caleg unggulan dengan memasang caleg di sebuah desa atau komunitas dalam dapilnya sangat signifikan dalam mendongkrak perolehan suara partai. Hal tersebut berkorelasi positif dengan semakin besarnya probabilitas caleg unggulan untuk terpilih.

Namun, sejak pemilu 2009 yang menerapkan sistem suara terbanyak sebagai penentu anggota legislatif terpilih, strategi tersebut tidak memiliki efek elektoral lagi.

Ada beberapa penyebabnya, antara lain:
1). Dengan sistem suara terbanyak memotivasi semua calon legislatif untuk bekerja keras merebut simpati masyarakat, karena yang menentukan sebagai anggota dewan bukan lagi nomor urut, tapi jumlah suara yang diperolehnya. Dalam konteks ini bermunculan caleg di luar kader partai. Dari sinilah politik uang mulai tumbuh subur yang mulai mereduksi hubungan kekerabatan, pertemanan, dan kesukuan.

2). Buah kesalahan dari caleg unggulan yang pada saat Ia telah menduduki kursi legislatif melupakan jasa dari caleg penyumbang suaranya, termasuk tidak memperjuangkan aspirasi dari masyarakat yang memilih caleg yang Ia pasang.

3). Penulis mencatat sebuah fenomena menarik yakni jika ada caleg dari sebuah desa atau komunitas yang akan berkontestasi dalam ajang pileg, masyarakat di desa tersebut atau anggota komunitas langsung melakukan peniliaian dari kesiapan modalitas finansial si caleg sebagi unsur utama. Jika dianggap tidak memiliki modalitas tersebut, maka suara yang diperoleh sangat sedikit sekali. Masyarakat langsung “menjudge” bahwa caleg tersebut hanya dipasang oleh caleg unggulan baik untuk mendongkrak perolehan suara maupun hanya untuk mencukupi syarat keterwakilan perempuan yang dalam pemilu 2019 mewajibkan minimal 30% dari komposisi caleg dalam sebuah dapil.

4). Pada pemilu 2019 menggunakan metode Sainte¬†Lague untuk mengkonversi suara menjadi kursi yaitu jumlah suara dalam setiap dapil akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3,5, 7 dan seterusnya.¬†Hal tersebut memicu pimpinan parpol mengalihkan strategi untuk memasang “vote getter” sebanyak-banyaknya demi mendapatkan dan meningkatkan perolehan jumlah kursi. Imbasnya, strategi memasang caleg seperti pada awal tulisan banyak ditinggalkan. Realitas terbaru bagi caleg yang memiliki modalitas finansial mumpuni akan menyuntikkan dana pada caleg yang dipasang yang tingkat keberhasilannya belum bisa dibuktikan.

Pada pemilu 2014 terlihat disparitas yang mencolok hasil perolehan suara antara caleg unggulan dengan caleg yang sekedar memenuhi syarat atau yang diharapkan sebagai pendongkrak perolehan suara.

Demikianlah beberapa faktor tidak efektifnya strategi memasang caleg dari sebuah desa atau komunitas tertentu untuk mendongkrak perolehan suara caleg unggulan. Hemat penulis, semakin permisifnya masyarakat terhadap politik uang, maka yang akan terpilih adalah caleg dengan modalitas popularitas, modalitas sosial, dan modalitas finansial serta yang memiliki timses yang efektif. Melihat bertebarannya caleg potensial baik petahana maupun pendatang baru, kohesi antar para caleg diinternal partai dalam sebuah dapil akan menjadi pembeda.