MENGURAI PERILAKU TINDAK KEKERASAN OLEH ORANG TERKASIH

 

Oleh: EFRAN HERYADI (EHY)
PENGAMAT PINGGIRAN

“Manusia hanya berada di permukaan dangkal peradaban. Jika tergores sedikit saja, lapisan serigala dalam dirinya akan muncul dengan cepat.” (Antonio Gramsci. Intelektual revolusioner, Italia)

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh berita pembunuhan oleh seorang suami kepada istrinya. Seorang istri yang berprofesi sebagai pencetak insan cendikia di salah satu sekolah di Kota Lubuk Linggau, tewas secara mengenaskan di tangan suaminya sendiri.

Kisah tragis Ibu Guru telah mengoyak sisi kemanusiaan publik. Tak ayal, jagat media sosial sontak geger! Sumpah serapah, makian, dan kutukan diarahkan kepada pelaku, bahkan oleh orang yang tidak mengenal sama sekali, baik pelaku maupun korban. Para jurnalis dengan kesungguhannya berupaya untuk menyibak akar permasalahan kenapa peristiwa itu terjadi.

Belum kering rasa amarah massa, bergeser ke Kabupaten Musi Rawas, seorang suami yang diduga dibakar api cemburu tega menganiaya istrinya di hadapan anaknya dalam sebuah mobil. Kejadian yang begitu cepat, rasa cinta yang seharusnya melindungi orang yang dicintainya tiba-tiba bersalin rupa menjadi kebencian yang disertai amarah yang agresif menyakiti fisik dan psikis.

Sigmund Freud dalam teori psikoanalisis menyebutkan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen. Ketiga elemen kepribadian itu dikenal sebagai id, ego, dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

Id adalah bagian jiwa paling liar manusia yang memiliki pretensi dan berpotensi melakukan tindakan jahat yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Sedangkan Ego, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan id. Ego juga ditafsirkan sebagai nafsu untuk memenuhi nafsu. Hanya saja telah ada kontrol dari manusia itu sendiri. Sudah ada pertimbangan, dan telah memikirkan akibat dari yang telah dilakukannya. Tepatnya, ego adalah pengontrol id atau rule yang dibuat untuk mencegah manusia menjadi liar dan tak terkontrol. Terakhir adalah Superego, atau yang lebih sering di sebut dengan hati nurani.

Pembentukan dan perkembangan superego sangat ditentukan oleh pengarahan atau bimbingan lingkungan sejak usia dini. Ia memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat. id, ego dan superego mutlak ada pada diri manusia.

Sependek pengetahuan penulis tentang dua kasus di atas seperti yang diberitakan oleh media massa dan media online bahwa diduga berasal dari rasa cemburu yang telah menggerakkan alam bawah sadar pelaku untuk menyakiti orang yang dia cintai. Secara psikologis ada ketidaksadaran pelaku berupa penyumbatan keinginan-keinginan yang tidak tersalurkan, hingga menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa sedih. Hingga secara impulsif tumbuh keinginan untuk menyakiti seseorang yang dicintai. Seperti yang diungkapkan oleh Sigmund Freud di atas, Manusia dewasa yang Id-nya lebih dominan akan menjadi cikal bakal psiko(pat),

Normalnya pada manusia, jika ego yang menguasai Id, ia akan menjadi orang yang mulai memikirkan. Benar atau salah, Tapi pemikiran seringkali tumpul dan sangat tergantung dengan suasana di sekitarnya. Sungguh sangat beruntung bila seseorang bisa mengoptimalkan fungsi superegonya. Dia memikirkan dan dia merasakan. Dia mempertimbangkan dan lebih berpikir objektif dalam menghadapi masalah. Dengan superego manusia belajar memengerti dan menindak lanjuti dengan kepala dingin. Berusaha seoptimal mungkin untuk tidak merugikan siapapun, karena ia tahu betapa sakit dan sedihnya bila dirugikan, apalagi dirugikan secara moral, sosial dan psikologi. Intinya, ia akan bertindak yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

Jika kita mengikuti pemberitaan di lini massa betapa tindak kejahatan berupa kekerasan dalam rumah tangga, banyak dilakukan oleh orang terdekat korban. Ada baiknya, selain memberikan sanksi yang tegas sebagai efek jera, tidak hanya untuk para pelaku, terlebih bagi semua orang, agar dilakukan upaya preventif agar tindakan kekerasan tidak dianggap sebagai banalitas. Sebab banalitas kejahatan menurut Filsuf perempuan Hannah Arendt, terjadi karena dangkalnya refleksi manusia terhadap situasi kejahatan yang terjadi. Pemikiran kritis menjadi lenyap. Subyek pelaku kejahatan tidak bisa mengimajinasikan jika berada dalam posisi korban.

Seperti peristiwa yang dipaparkan di atas, tidak hanya bisa dilakukan oleh orang yang bengis, kejam, dan jahat sebagaimana tokoh musuh dalam cerita-cerita superhero. Tapi, orang biasa yang selama ini berpikiran lurus dan justru karena itu ia menjadi kehilangan daya kritis yang menyebabkan perilaku kekerasan terjadi.

Karena menurut plato, Filsuf asal Yunani “Ada dalam diri manusia masing-masing, bahkan (bagi) mereka yang tampaknya paling lugu, sejenis hasrat yang mengerikan, liar dan tanpa hukum.”

Semoga Allah melindungi kita semua. Aamiin Ya Rabb.