KETIDAKBERPIKIRAN DAN AKAL SEHAT KITA!

 

Oleh Efran Heryadi
Pengamat Pinggiran/Ketua PC GP Ansor Kab. Musi Rawas

Pada sebuah siang yang sejuk, di sebuah Masjid Al Noor di Selandia Baru. Dari kawasan industri di Leslie Hills Drive, sebelah barat Masjid Al Noor.

Tampak seorang lelaki mengendarai mobil dari Mandeville Street dan Blenheim Road menuju pusat kota kemudian berbelok ke utara menuju Deans Avenue.
Beberapa menit kemudian dia memarkir mobil di jalur sebelah masjid dan menempatkan kendaraan menghadap Deans Avenue.

Sang tersangka keluar dari mobil, memilih senjata dari dalam bagasi, dan berjalan menuju gedung sembari melepaskan tembakan membabi buta ke arah jamaah Masjid yang sedang bersimpuh dalam sujudnya kepada sang khalik.

Siang yang sejuk dengan cepat bersalin rupa menjadi panas, teramat panas, tubuh-tubuh para syuhada yang tak berdosa bergelimpangan, darah berceceran yang memerahkan karpet hijau di rumah Allah tersebut.

Aksi teror dan pembunuhan sadis yang teridentifikasi bernama Brenton Harrison Tarrant, yang berkewarganegaraan Australia, 49 orang jamaah syahid, melukai perasaan ratusan juta umat manusia di muka bumi ini, tepat di hari Jumat yang penuh barokah. Terkutuklah dirimu Tarrant yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Entah setan apa yang berkelebat dalam kepalamu Tarrant, dan misi apa yang sedang engkau emban, hingga tega melakukan aksi sadis penuh kegilaan, ditambah dengan senyum penuh kepuasan saat berada di pengadilan. Dunia dan manusia seisinya mengutukmu. Manifesto retorika haluan ekstrem kanan serta anti-imigran yang kau ucapkan sesaat sebelum kejadian menununjukkan kesesatan berpikirmu. Sungguh kau tidak paham bahwa rumah ibadah adalah tempat suci yang memberikan rasa aman, nyaman, dan membagikan hangat cahaya-Nya pada sesiapapun juga.

Kita semua, saya hakul yakin mengutuk perbuataan sadis yang dilakukan terhadap manusia seperti yang dilakukan oleh Brenton Harrison Tarrant. Saya mengajak para pembaca untuk memahami perilaku Tarrant dalam perspektif
banalitas kejahatan seorang filsuf bernama Hannah Arendt.

Menurut Arendt seperti yang ditulis oleh dosen Filsafat Reza A.A Wattimena bahwa pikiran yang kejam tidak diperlukan untuk melakukan suatu kejahatan yang brutal. Kejahatan yang brutal bisa mengambil rupa wajah orang baik-baik, orang-orang biasa, dengan wajah dan pikiran yang seringkali amat lurus, mampu melakukan kejahatan brutal terhadap manusia lainnya, tanpa merasa benci, ataupun merasa bersalah.

Argumen Arendt di dalam buku disebutnya sebagai banalitas dari kejahatan, yakni suatu situasi, dimana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar. Argumen ini ia dapatkan dari pengamatannya terhadap orang-orang biasa, yang tidak memiliki pikiran jahat, namun mampu berpartisipasi aktif di dalam suatu tindak kejahatan brutal.

Lalu siapakah Brenton Harrison Tarrant? Mengutip dari tribunnews.com, yang mengambil dari situs Heavy.com, merunut soal siapa Brenton Harisson Tarrant, lewat manifesto di akun media sosialnya. Secara ringkas saya jabarkan sebagai berikut:

“(Aku) hanya orang kulit putih biasa, 28 tahun, lahir di Australia di keluarga miskin, kalangan pekerja kasar, masa kecilku berjalan biasa saja, tanpa ada hal-hal hebat, yang akan melakukan aksi untuk memastikan masa depan orang-orang dari kaumku,”

Tarrant diduga sudah didoktrin oleh kelompok radikal sayap kanan untuk membenci imigran dan orang-orang di luar ras Eropa atau kulit putih. Dalam pemikirannya serangan terhadap orang-orang non Eropa adalah sah dan ini adalah perang serta tidak ada yang namanya ‘orang tak berdosa’.

Jelaslah, sebagaimana yang disampaikan oleh Arendt bahwa yang menjadi penyakit utama para pelaku kejahatan adalah ketidakberpikiran. Dan karena tak berpikir, ia seringkali tak sadar, bahwa tindakannya itu merupakan suatu kejahatan brutal.

Ketidakberpikiran membuat suatu tindakan dianggap terasa wajar, termasuk tindakan yang mengerikan. Ditambah dengan miskinnya imajinasi dan kepatuhan buta yang hanya asal menjalankan perintah sesuai dengan doktrin radikalisme jauh lebih merusak dari semua insting jahat dijadikan satu. Itu semua (berdasarkan manifestonya) ada di dalam diri Tarrant. Pelaku pembunuhan sadis di Masjid Al Noor, Selandia Baru.

Dengan berpijak pada pemikiran Arendt, kita bisa menyimpulkan satu argumen sederhana, bahwa akar kejahatan selain atas nama kebencian, dendam, ataupun pikiran kejam, melainkan sikap patuh buta pada sistem dan aturan, yang tidak disertai dengan merawat akal sehat dengan sikap kritis maupun reflektif. Kejahatan semacam ini memiliki dampak amat besar, namun pelakunya adalah orang-orang biasa yang tidak merasa berbuat jahat (senyum Tarrant di pengadilan sebagai bukti otentik).

Maka, selain mengutuk aksi brutal yang dilakukan Tarrant dan berharap hukuman seberat-beratnya. Diperlukan upaya preventif untuk melakukan pendeteksian secara dini terhadap doktrin dan ajaran yang menyimpang, atau apa pun namanya oleh kelompok radikal, dengan mengembangkan pola merawat akal sehat dengan cara berpikir kritis dan reflektif di berbagai segi kehidupan agar terhindar dan tidak terpapar dari penyakit tak berpikir dan kemiskinan imajinasi yang mematikan serta ‘de javu’ (pengulangan) aksi Brenton Harisson Tarrant yang sadis tidak terjadi lagi di muka bumi ini.

Di keheningan senja beranjak malam temaram, kita masih mencium semerbak wangi darah para syuhada Masjid Al-Noor, Selandia Baru. Khusnul khotimah… Insya Allah. Surga Allah menanti. Alfatihah. Aamiin Amiin Allahummah Aamiin.