SAYAP-SAYAP PATAH POLITIKUS MUDA POTENSIAL: STUDI KASUS GUS ROMMY (DAN JUGA BUNG ANAS URBANINGRUM).

OLEH: EFRAN HERYADI (EHY)
PENGAMAT PINGGIRAN/KETUA PC GP ANSOR KAB. MUSI RAWAS, SUMSEL.

“Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tapi, suatu saat, di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi. Maka, terjunlah.” Soe Hok Gie.

Muhammad Romahurmuziy, politikus yang biasa disapa Rommy. Kenapa saya panggil beliau dengan Gus? Karena Gus adalah panggilan bagi anak seorang Kiai. Ini bukanlah hal yang mengada-ada. Dalam tubuh Gus Rommy mengalir darah biru keturunan Kiai, intelektual, aktivis, dan politikus. Ayahnya adalah K.H. Prof. Dr. K.H. M. Tolchah Mansoer seorang Guru Besar Hukum Islam di IAIN sunan Kalijaga, juga merupakan pendiri IPNU (Ikatan Pelajar NU), pernah menjadi anggota DPR-GR mewakili Partai NU DIY zaman Orde Lama, dan Rois Syuriah PBNU 1984-1986. Kakeknya Gus Rommy adalah Menteri Agama RI ketujuh K.H. Muhammad Wahib Wahab. Buyutnya adalah K.H. Abdul Wahab Hasbullah, seorang Kiai kharismatik yang dihormati dan merupakan salah satu pendiri ormas Islam terbesar di dunia, yakni Nahdatul Ulama.

Gus Romy memang lahir dari keluarga politik, sejak kecil Ia terbiasa mengikuti orangtuanya berkampanye. Namun, pada awalnya, alumni salah satu Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, tidak tertarik untuk menjadi politisi. Ia justru bercita-cita menjadi seorang Kiai yang memimpin sebuah pesantren besar. Persinggungannya dengan dunia gegap gempita sekaligus sunyi ini (politik), berawal saat menjadi staf khusus Menteri Koperasi dan UKM RI yang saat itu dijabat oleh Suryadharma Ali.

Saya membayangkan Gus Rommy saat awal memutuskan terjun ke dunia politik pada fase perjalanan hidupnya, yang kemudian banting setir mengubah cita-citanya, dengan lebih memilih menjadi seorang politisi memiliki cita-cita untuk mengubah lumpur yang kotor seperti yang diungkapkan oleh Soe Hok Gie pada awal tulisan ini, menjadi air sungai mengalir jernih yang bermanfaat bagi umat manusia.

Karir politiknya sangat sukses, di usia muda, politikus pemilik gelar magister ITB ini telah menasbihkan dirinya sebagai politikus yang diperhitungkan yakni sebagai anggota DPR RI pada tahun 2009, dilanjutkan pada tahun 2011 sebagai Ketua Komisi IV DPR RI mewakili Fraksi PPP. Kemudian menjabat sebagai Ketua Fraksi PPP di DPR RI, Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 2011-2015 yang terpilih dalam Muktamar VII PPP tahun 2011. Pada Bulan Oktober 2014, di tengah badai friksi di internal partai berlambang Ka’bah ini, politisi kelahiran tahun 1974 ini terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masa khidmah 2014-2019.

Sejak itu, wajah Gus Rommy sering muncul di layar kaca, ucapannya banyak dikutip dan menjadi rujukan, baik oleh media mainstream maupun online. Pria kelahiran Sleman, Yogyakarta ini, telah mencapai kejayaannya di usia relatif muda. Namun, takdir Allah berkehendak lain, kasus jual beli jabatan di Kemenag berujung OTT KPK telah menguburkan mimpi besarnya sebagai salah satu tokoh muda calon pemimpin Indonesia di masa depan.

Ingatan penulis melayang jauh ke masa 2013 silam. Di mana kasus korupsi telah meluluhlantakkan mimpi indah mantan aktivis pergerakan, tokoh muda, dan politisi yang juga Ketua Umum Partai Demokrat. Tepatnya, pada tanggal 22 Februari 2013, saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka atas atas dugaan gratifikasi dalam proyek Hambalang.

Bumi pertiwi terluka hatinya. Bung Anas, demikian Ia biasa disapa, adalah intelektual pemilik gelar Doktor yang banyak melahirkan karya tulis bermutu. Sosok Anas yang dikenal santun saat berbicara dengan retorika dan narasi yang menggugah bagi sesiapa pun yang mendengarnya, mulai menancapkan jejak kakinya di kancah politik di organisasi gerakan mahasiswa. Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI pada kongres yang diadakan di Yogyakarta pada 1997.
Dalam perannya sebagai ketua organisasi mahasiswa terbesar itulah, Bung Anas berada di tengah pusaran perubahan politik pada Reformasi 1998. Pada era itu pula ia menjadi anggota Tim Revisi Undang-Undang Politik, atau Tim Tujuh, yang menjadi salah satu tuntutan Reformasi. Kemudian pada pemilihan umum demokratis pertama tahun 1999, Anas menjadi anggota Tim Seleksi Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut dalam pemilu. Selanjutnya, dengan kompetensinya yang semakin diakui, ia terpilih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum periode 2001-2005 yang mengawal pelaksanaan pemilu 2004.

Setelah mengundurkan diri dari KPU, Anas bergabung dengan Partai Demokrat sejak 2005 sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah hingga terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada kongres tahun 2010 yang ketat, panas, dan menguras energi di usia 41 tahun. Usia yang masih muda belia untuk ukuran sebagai Ketua Umum Partai. Usia yang nyaris sama dengan Gus Rommy, hanya terpaut satu tahun saat terpilih menjadi Ketum DPP Partai berlambang Baitullah.

Publik menanti keputusan hukuman Gus Rommy, akankah jalan kehidupannya sama dengan Bung Anas, laksana sebuah “roller coaster”, melesat naik dengan cepat, turun pun teramat cepat, ataukah mengutip ucapan mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill: “politisi dapat terbunuh berkali-kali dalam politik, namun setelah terbunuh, politisi tersebut dapat bangkit kembali.”

Terbetik tanya dalam sanubari kita semua, mengapa dengan modalitas finansial yang telah dipunyai, juga jabatan sebagai pejabat publik yang disandang, serta pendidikan agama dan pendidikan formal yang mumpuni, kenapa Bung Anas dan Gus Rommy terperosok dalam sumur tanpa dasar yang bernama dunia politik dan kekuasaan? Ketika ditelusuri lebih dalam dengan menggunakan perspektif kebahagiaan dari sang filsuf, Plato, Ketiga unsur jiwa di atas (Ephitumia/Sebagai Kuda Hitam, Thumos/Sebagai Kuda Putih, dan Logistikon/Sebagai Sais) memerlukan “Eros” sebagai sayap guna mendorong dan hasrat yang mewarnai ketiga modalitas di atas terbang menuju keilahian demi menemukan kesejatian diri dan kebahagiaan sejati.
Wallahu A’lam Bishawab.