MUSDA KNPI KOTA LUBUK LINGGAU: SIAPA TERPILIH?

OLEH: EFRAN HERYADI (EHY)

PENGAMAT PINGGIRAN

Kapal besar pemuda bernama KNPI di Kota Lubuk Linggau tak lama lagi akan mencari siapa figur yang akan menjadi nakhodanya. Telah banyak nama, baik secara eksplisit maupun implisit menyatakan akan bertarung dalam Musda.

Lobi-lobi cantik dalam balutan diskusi telah dilakukan di cafe-cafe. Para petinggi OKP bak “gadis manis anak tuan tanah” menjadi rebutan para calon kontestan.

KNPI yang nota bene merupakan organisasi “plat merah” karena mendapatkan perhatian pemerintah berupa gelontoran bantuan dana yang besar.

Menjadi Ketua KNPI berarti mendapatkan tiket mendapatkan popularitas, memperoleh akses ke birokrasi, menggenggam prestise di kalangan pemuda, menempatkan satu kaki guna meraih kesuksesan, dan lain-lain.

Tak mengherankan menjadi nakhoda KNPI adalah dambaan banyak tokoh pemuda, baik yang diakui ketokohannya karena kematangannya dan pengalamannya memimpin OKP maupun “penokohan” secara instan oleh sekumpulan loyalis untuk bertarung dalam kompetisi bernama MUSDA KNPI di Kota Sebiduk Semare.

Akan (sudah) banyak “deal-deal” guna mendapatkan dukungan yang menjadi syarat sebagai calon “Raja Pemuda” yang dibalut janji-janji manis dilakukan, baik oleh timses, terlebih oleh sang calon sendiri.

Dalam tulisan ini, betapa saya sedang tidak hendak menilai keabsahan dan legalitas MUSDA KNPI di Kota yang terkenal dengan Bukit Sulapnya ini. Saya bersepaham bahwa hempasan ombak besar bernama dualisme yang tak henti menggoyang kepengurusan KNPI dari pusat hingga daerah harus dihentikan. Sungguh!

Pemuda harus bersatu padu untuk menancapkan eksistensi dan mencapai cita-cita bersama. Maka dari itu, demi menyatukan semua warna dan kepentingan dalam sebuah kohesi pemuda yang kokoh dan tangguh.

Hemat saya, untuk mencapai semua itu, dibutuhkan sosok yang tidak sekadar mau, namun mampu, baik dari segi kematangan sebagai organisatoris, memiliki rekam jejak dan berpengalaman serta handal memimpin OKP, juga jangan dilupakan, sebagai rumah bagi organisasi-organisasi, dibutuhkan figur pemimpin yang mampu menjaga independensi dan menempatkan diri sebagai mitra kritis Pemerintah.

Tak kalah penting, di era globalisasi ini, di mana arus informasi begitu mudah didapat, seorang pemimpin dalam level apa pun, hendaknya tidak hanya mampu mengartikulasikan ide dan gagasan secara lisan, namun sanggup melakukan itu melalui tulisan. Tidak terkecuali pemimpin di bidang kepemudaan.

Jika tidak, saya berkeyakinan yang akan terpilih seorang nakhoda yang tak akan mampu menjadi pemersatu elemen pemuda, karena miskin pengalaman, keringnya logika dan dialektika. Semua itu akan bermuara pada munculnya dualisme. Ekspektasi yang membuncah demi cita-cita mulia menciptakan kohesi di kalangan pemuda hanya sebuah utopia.

Kita akui bahwa KNPI Kota Lubuk Linggau adalah sebuah anomali, jika di beberapa daerah terjadi “perang saudara” tersebab adanya “matahari kembar”. Almarhum Fery Fy di masa kepemimpinannya mampu mengeliminir munculnya hal tersebut.

Sangat menarik untuk kita nantikan, mampukah MUSDA KNPI kali ini melahirkan sosok perekat bagi OKP-OKP di Kota Lubuk Linggau atau menabuh lonceng bagi dualisme KNPI.

SELAMAT ber-MUSDA.