IKAN MUSI, RIWAYATMU KINI

Oleh: EFRAN HERYADI (EHY)

Pengamat Pinggiran

Jika Anda lahir di desa yang dialiri Sungai Musi era 80-an hingga 90-an (dan sebelumnya). Pasti Anda bersepakat mengatakan bahwa hampir setiap hari Anda dan keluarga mengkonsumsi ikan yang hidup di perairan Sungai Musi.

Begitu gampang, cukup Anda dan teman-teman masa kecil, membawa kail dan setengah genggam nasi, duduk yang manis di atas batang, lalu pasang nasi sebagai umpan, maka ikan-ikan akan berlomba-lomba menangkap kail tersebut.

Sementara para remaja dan orangtua membawa jala dan alat penangkap ikan lainnya. Tak perlu berlama-lama, niscaya akan memperoleh hasil tangkapan yang banyak. Pindang ikan, brengkes, balur, ikan asin, pundang, ikan salai, dan menu lainnya, bersetia di meja makan keluarga Anda. Selain pempek, kerupuk, kemplang dan makanan berbahan baku ikan lainnya.

Kini, jika Anda berkesempatan berkunjung ke desa yang berada bantaran Sungai Musi. Tak akan pernah akan Anda jumpai hal yang saya sebutkan di atas. Ikan-ikan menjadi biota Sungai Musi yang langka.

Sungai Musi yang dulu terkenal sebagai habitat penting bagi ikan-ikan endemik lokal seperti patin, baung, “jore”, “lampam”, belida, dan lain-lain. Sejak lama telah menjadi andalan dan penghidupan bagi masyarakat. Tetapi, dalam beberapa dekade terakhir, ikan endemik di sungai tersebut mulai menghadapi ancaman kepunahan.

Faktor penyebab kelangkaan dan ancaman kepunahan ikan

Mengutip hasil penelitian Muhammad Iqbal, dkk dalam buku “Ikan-ikan di Sungai Musi dan Pesisir Timur Sumatera Selatan”.
Ada beberapa penyebab rusaknya habitat kehidupan ikan, diantaranya:
Pertama, konversi lahan rawa gambut menjadi daratan untuk pertanian dan perkebunan sawit. Kedua, limbah industri dan perkebunan yang menggunakan bahan kimia. Ketiga, penangkapan ikan menggunakan putas atau racun, dan setrum listrik.

Sependek pengetahuan saya, belum ada upaya sungguh-sungguh, baik itu usaha konservasi sumber daya ikan dan usaha preventif guna melindungi ikan dari ancaman kepunahan dari pihak terkait. Jika pun ada, hanya sebatas himbauan sekadarnya, tak berbekas.

Hal ini diperparah oleh ketidakpedulian masyarakat yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan setrum ikan serta belum adanya keinginan baik dari pihak perusahaan yang diduga ikut serta mencemari sungai dengan limbah yang berasal dari pabrik, baik perusahaan besar maupun sawmil kayu yang banyak beroperasi di pinggiran Sungai Musi.

Namun, ada secercah harapan. Sekira seminggu yang lalu, Pemkab Musi Rawas melalui Camat Kecamatan Muara Lakitan yang melakukan kegiatan tabur benih ikan patin.

Aksi nyata yang melibatkan masyarakat bersama komunitas mancing, dan melakukan patroli air bersama jajaran Kapolsek Muara Lakitan, serta mensosialisasikan pentingnya menjaga sumber daya ikan dan lingkungan laksana oase di tengah gersangnya gurun pasir.

Sontak, kegiatan yang di prakarsai oleh Bapak Freewan Novio, S.STp., M.Ec.Dev, Camat Kecamatan Muara Lakitan yang juga tokoh pemuda Kab. Musi Rawas mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak.

Di media sosial, kegiatan tersebut menjadi viral dan ditanggapi nitizen serta mendapat pemberitaan massif oleh berbagai media.

Kita semua berharap, agar kegiatan ini terus dilakukan. Tidak hanya di Kecamatan Muara Lakitan. Namun, Ke depan Pemkab Musi Rawas beserta anggota DPRD kab. Musi Rawas membuat Peraturan Daerah tentang pelarangan penyetruman ikan dan menggiatkan tabur benih ikan/konservasi sumber daya ikan.

Kegiatan sosialisasi mesti dilakukan secara kontinyu dengan menggandeng berbagai elemen, perusahaan, para Kades, tokoh masyarakat, tokoh agama, kalangan pemuda dan NGO yang konsen di bidang pelestarian lingkungan.

Tak kalah pentingnya, melalui Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan, dan pihak terkait agar melakukan kajian penyebab pencemaran sungai dan melakukan rehabilitasi sungai agar ikan dapat berkembang biak.

Seperti dituturkan oleh Bapak Freewan Novio, semua itu diharapkan akan berdampak pada kelestarian keanekaragaman ikan, dan pada akhirnya masyarakat akan merasakan manfaat ekonomis.

Jika semua hal tersebut di atas tidak segera dilakukan. Maka, ikan musi akan tinggal cerita bagi generasi penerus kita dan tinggal menunggu saatnya, alam akan memberikan hukuman setimpal karena kelalaian kita.

Semoga tersemogakan!
Aamiin Allahummah Aamiin.