Di Musi Rawas Tak Ada Lagi Desa Berstatus Sangat Tertinggal

MUSIRAWAS – Berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) dari Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi tahun 2019, ternyata di Kabupaten Musi Rawas tidak ada lagi desa yang berstatus sangat tertinggal.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Musi Rawas Achmadi Zulkarnain melalui Kabid Pengembangan Kawasan Inovasi dan Teknologi Tepat Guna, Eko Supriyadi, didampingi kasi Penanggulangan Kemiskinan Rani Diana Sari, Selasa (23/7).

“Berdasarkan data IDM 2019, Kabupaten Musi Rawas sudah zero dari desa sangat tertinggal,” kata dia.

Selain tidak ada lagi desa sangat tertinggal jelas dia, untuk desa di Musi Rawas yang masih berstatus tertinggal kini sudah berkurang menjadi 14 dari sebelumnya sebanyak 69 desa.

“Dan pada 2020 ini, 14 desa yang masih berstatus tertinggal diupayakan untuk lepas dari status tertinggal dan meningkat menuju desa berkembang dan maju,” katanya.

Ditambahkan Eko, untuk desa berstatus sebagai desa maju di Musi Rawas, dari sebelumnya hanya Lima desa, saat ini bertambah menjadi 36 desa.

“Inshaallah dalam waktu dekat ini akan disahkan oleh Kemendes PDT dan Transmigrasi ,” katanya.

Dikatakannya lagi, diperolehnya data IDM ini setelah pihaknya turun langsung melakukan orientasi lapangan salah satunya dengan melakukan quisioner kepada masyarakat di 186 desa di Musi Rawas.

Dimana ada 22 variabel dan 54 indikator dalam menentukan status desa yang kemudian dimasukan ke dalam IDM ini, diantaranya Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Lingkungan.

Secara rinci, untuk Indeks Ketahanan Sosial meliputi skor akses sarana kesehatan, ketersediaan dokter, bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Kemudian tingkat kepesertaan BPJS, akses Poskesdes, aktivitas Posyandu, akses terhadap SD/MI, akses terhadap SMP/MTs, akses terhadap SMU/SMK.

Kemudian skor ketersediaan PAUD, tersediaan PKMB/Paket ABC, akses terhadap pusat keterampilan/kursus. Ketersediaan taman bacaan masyarakat/perpustakaan desa. Kebiasaan gotong royong, frekuensi gotong royong, keberadaan ruang publik, kelompok kegiatan olahraga.

Kemudian, skor kegiatan olahraga, keberagamaan agama, keragaman bahasa, keragaman komunikasi dan pos keamanan, siskamling, konflik, PMKS, Akses SLB, akses listrik, sinyal, internet, akses internet warga, akses jamban, pengelolaan sampah, air minum, air mandi dan cuci.

Sedangkan Indeks Ketahanan Ekonomi, meliputi skor keberagaman produksi, pertokoaan pasar, toko dan warung kelontong, kedai dan penginapan, pos dan jasa logistik, bank dan BPR, fasilitas kredit, lembaga ekonomi, moda transportasi umum, keterbukaan wilayah dan kualitas jalan.

Selanjutnya Indeks Ketahanan Lingkungan, meliputi skor kualitas lingkungan, rawan bencana dan tanggap bencana.

Data IDM ini akan dikonsolidasikan dengan data BPS sebagai dasar pemerintah membuat Kebijakan dan Perencanaan Pembangunan Desa.

Sementara 14 desa yang masih berstatus desa tertinggal yakni Enam desa di Kecamatan Muara Lakitan, meliputi Desa Lubuk Pandan, Bumi Makmur, Mukti Karya, Sindang Laya dan Harapan Makmur.

Kemudian Empat desa di Kecamatan BTS Ulu meliputi Desa Lubuk Pauh, Sembatu Jaya, Kembang Tanjung dan Pangkalan Tarum Lama.

Selain itu Dua desa di Kecamatan Muara Kelingi yakni Desa Binjai dan Pulau Panggung, Dua desa di Kecamatan Selangit yakni Desa Taba Remanik dan Taba Gindo serta Desa Kebur Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut.(IK)